PERKEMBANGAN MORAL DAN
IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN
PENDAHULUAN
Dalam
pembahasan sebelumnya kita telah membahas bahwa salah satu unsur penting dalam
pelaksanaan pembelajaran adalah pemahaman peserta didik. Aspek-aspek terkait
dengan pesrta didik adalah fisik dan psikis dalam teori pengembangan moral
Kohlberg memberikan penekanan tentang pentingnya pemahaman guru terhadap
perkembangan moral anak sebagai bagian karakteristik individu. Dengan memahami
perkembangan moral siswa maka guru dapat
mengeksplor, memilih dan menentukan bahan belajar dan strategi, model-model
pembelajaran yang tepat untuk proses pembelajaran yang efektif guna
mencapai hasil yang optimal.
Di dalam bab ini membahas perkembangn
moral serta implementasi dalam pembelajaran di dalam kelas .Pembahasan bab ini
perkembangan moral.antara teori jean piaget,teori perkembangan moral
Kohlberg,pandangan Psikologi Sosial Erik H.Erikson dan implementasinya
keterpaduan teori-teori di bahas dalam bab ini.
A.Teori Perkembangan Jean Piaget
Dalam
proses pembelajaran guru sering kali dihadapkan dengan berbagai dinamika
mengenai perkembangan peserta didik.Perubahan-perubahan dari peserta didik ini
harus mendapatkan perhatian dari guru,karena guru bisa memilih strategi yang
sesuai dengan karakteristik peserta didik yang terlibat dalam proses
pembelajaran.
Dalam
teorinya, piaget mengungkapkan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui
urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda. Semua
perubahan yang terjadi pada setiap tahap tersebut merupakan kondisi yang
diperlukan untuk mengubah perkembangan moral berikutnya.
Berkaitan
dengan perkembangan moral, piaget mengemukakan dua tahap perkembangan yang
dialami oleh setiap individu. Tahap pertama disebut “Heterenomous” atau tahap “
Realisme moral” dalam tahap ini seorang anak cenderung menerima aturan begitu
saja. Tahap kedua disebut “Autonomous morality” atau “Independensi moral” dalam
tahap ini seorang anak memandang perlu untuk memodifikasi aturan – aturan
swesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Dalam
pandangan piaget tahap – tahap kognitif mempunyai kaitan yang sangat kuat
dengan empat karakteristik berikut
1. Setiap
anak pada usia berbeda menempatkan cara –cara yang berbeda secara kualitatif,
dalam hal memecahkan masalah
2. Perbedaan
cara berfikir antara anak satu dengan yang lain sering kali dapat dilihat dari
cara mereka menyusun kerangka berfikir
yang saling berbeda.
3. Masing
– masing cara berfikir akan membentuk satu kesatuan yang terstruktur.
4. Tiap
– tiap urutan dari tahap kognitif pada dasarnya merupakan suatu integrasi
hirearkis dari apa yang dialami sebelumnya.
Seperti
dikemukakan sebalumnya piaget mencoba mengkaji tingkahlaku anak melalui
aktifitas bermainnya, karena Ia ingin menguji bagaimana anak –anak dapat
berfikir secara sepontan, dan bagaimana anak –anak menyesuaikan konsepnya
terhadap berbagai tata aturan.
Dari
hasil penelitiannya piaget mengetahui anak – anak yang lebih muda usianya
cenderung menilai suatu tindakan berdasarkan konsekuensi dan akibat
materialnya.
Kesimpulan
mendasar dari hasil pengamatan piaget adalah bahwa dapat diambil terdapat pola
–pola yang konsisten pada prilaku anak yang bergerak pada satu tahap ketahap
berikutnya
B. Teori perkembangan moral
Kohlberg
Dalam
upaya mengembangkan aspek afeksi siswa melalui pembelajaran murray dalam sebuah
overviewnya mengemukakan bahwa menurut Kohlberg pendekatan yang baik yang harus
dilakukan untuk memahami prilaku moral yang harus didasari pemahaman tentang
tahap –tahap perkembangan moral. Tujuan pendidikan moral adalah untuk mendorong
individu – individu guna mencapai tahapan – tahapan perkembangan moral
selanjutnya. Dalam keadaan itu pendidikan moral harus memperhatikan kepribadian
secara menyeluruh, khususnya berkaitan dengan interaksi kita dengan oranglain,
prilaku atau etika kita. (manan, 1995 :8).
Searah dengan piaget, Kohlberg bahwa
para remaja menerapkan struktur kognitif moral mereka pada dilema moral. Dengan
demikian menemukan bahwa : 1) penelitian dan perbuatan moral pada intinya
bersifat rasional, 2) terdapat sejumlah tahap pertimbangan moral yang sesuai
dengan piaget, 3) penelitian yang membenarkan piaget bahwa sekitar usia 16
tahun, pada masa remaja merupakan tahap tertinggi dalam proses tercapainya
pertimbangan moral.
Pre-Conventional
Level
Pada
level ini anak- anak memberikan respon terhadap aturan –aturan kebiasaan, baik
dan buruk, benar atau salah, tetapi interprepretasi ini mereka terjemahkan
menurut taraf pemikiran mereka sendiri atau konsekuensi kesenangan dan ketidak
senangan mereka terhadap tindakan tertentu (hukuman, reword, ganjaran kebaikan)
atau dalam batas kekuasaan fisik dari orang –orang yang menetapkan aturan atau
label tersebut.
Tahap
1: The Punishment and Obedience orientation (orientasi pada hukuman dan
kepatuhan)
Pada tahap ini biasanya prilaku baik yang muncul pada
anak –anak bukan tumbuh sebagai suatu kesadaran akan kebaikan tersebut, akan
tetapi hal itu muncul karena konsekuensi tertentu bilaman mereka melakukan atau
tidak melakukan sesuatu tindakan tersebut
Tahap 2: The Instrumental Relativist Orientation
Pada tahap ini pandangan terhadap perbuatan yang benar
adalah perbuatan yang secara instrumental memuaskan kebutuhan dirinya dan
kadang –kadang kebutuhan orang lain.
Conventional Level
Pada level ini telah tumbuh
kesadaran dan penghargaan terhadap individu lain, keluarga, kelompok atau
Negara dan hal – hal tersebut dianggap memiliki nilai bagi dirinya. Tahap ini
lebih memberikan penekanan kepada usaha aktif untuk mengidentifikasikan diri
dengan pribadi –pribadi atau kelompok lain yang ada disekitarnya.
Tahap 3: The Interpersonal
Concordance of “Good Boy – Nice Girl” Orientation
(orientasi
anak manis).
Pada tahap ini prilaku yang baik
diartikan sebagai prilaku yang menyenangkan atau yang dapat membantu orang lain
dan disetujui oleh mereka.
Tahap
4: The low and Order Orientation (orientasi pada perintah dan hukum)
Pada
tahap ini tindakan seseorang lebih banyak berorientasi pada otoritas, aturan
–aturan yang pasti dan pemeliharaan tata aturan sosial.
Past-Conventional,
Autonomus, or Principled Level
Pada level ini sudah ada usaha
kongkrit dalam diri seseorang untuk menentukan nilai – nilai atau prinsip –
prinsip moral yang dianggap memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus
mengkaitkannya dengan otoritas kelompok atau pribadi –pribadi yang mendukung
prinsip – prinsip tersebut, sekaligus terlepas dari identifikasi seseorang
terhadap kelompok.
Tahap 5: The Social contract
Legalistic Orientation (orientasi kontrak sosial legalistik)
Dalam tahap ini perbuatan yang benar
didefinisikan sebagai kebenaran individual secara umum dalam ukuran – ukuran
yang standar yang telah diuji secara kritis dan disepakati oleh seluruh
masyarakat.
Tahap 6: The Universal Ethical
Principle Orientation
Pada tahap ini, apa yang secara
moral dipandang benar harus dibatasi oleh hukum – hukum atau aturan – aturan sosial, akan tetapi
lebih dibatasi oleh kata hati dan kesadaran menurut prinsip – prinsip etik.
Teori yang dikemukakan oleh Kohlberg
tidak terlepas dari kritik. Yang paling banyak mendapatkan sorotan adalah
pandangannya yang memberikan tempat istimewa terhadap keadilan, sebagai
tingkatan tertinggi atau tahap tertinggi dari konsep
perkembangannya.berdasarkan kritikan – kritikan yang muncul akhirnya mendorong Kohlberg
untuk merevisi konsep tahap –tahapnya (dari tahap keenam kelima), dan sekaligus
meninjau kembali kecenderungan untuk menempatkan keadilan sebagai prinsip
tertinggi.
C.Pandangan Psikologi Sosial Etik
H.Erikson
Sepintas dapat
dikemukakan bahwa Erik H.Erikson adalah salah satu dari kelompok
Neo-Ferdian,dimana mereka yang bertitik tolak dari kerangka pemikiran
psikoanalisa Freud.
Mengenai
tahap – tahap perkembangan psikososial ini Erikson mengemukakan adanya delapan
thap perkembangan, yaitu:
1. Trust vs Mistrust
Tahapan
pertama ini berkaitan dengan persoalan apa yang patut dipercaya (Trust) dan apa
yang tidak dapat dipercaya (Mistrust).
Seorang
bayi akan dapat mengerti dunia sekitarnya melalui perasaannya, dan akan dapat
mersakan makanannya melalui lidahnya. Trust dalam hubungan ini diartikan
sebagai suatu kesesuaian antara kebutuhan – kebutuhan bayi dengan sekitarnya.
Berkaitan
dengan mistrust, Erikson tidak
melihat bahwa setiap tahap merupakan kunci untuk menguasai secara penuh
kualitas sosial pada tahap berikutnya. Erikson membatasi Mistrust sebagai
kesiapan terhadap kemungkinan bahaya, ancaman, atas suatu antisipasi terhadap
keadaan yang tidak menyenangkan.
Dari
apa yang di kemukakan di atas nampak bahwa
Erikson lebih cendering mengembangkan suatu orientasi terhadap sifat
dasar manusia.
2.
Aountonomy
vs doubt
Menurut
Erikson tiap –tiap tahap dalam perkembangan seseorang distrukturkan melalui
cara –cara yang sama.
Dalam
tahap kedua ini Erikson mengidealisasikan tumbuhnya sifat –sifat positif
(auntonomi) dan sifat – sitaf negative (doubt) secara bersama –sama. Dalam
hubungan ini Erikson melihat bahwa pertumbuhan Auntonomi pada dasarnya
memerlukan pengembangan rasa kepercayaan diri. Kendati demikian satu hal yang
patut untuk deperhatikan bahwa auntonomi yang berlebihan dapat membahayakan.
3.
Initiative
vs guilt
Dalam
pandangan Erikson konflik yang paling menonjol ditahap ketiga ini adalah
perkembangan suatu initiative terhadap satu sasaran atau tujuan, dan
kemungkinan tumbuhnya guilt dalam upayanya untuk mencapai sasaran atau tujuan
yang lain.
4.
Industry
vs Inferiority
Tahap keempat adalah tahap dimana anak
–anak mulai mampu menggunakan cara berfikir deduktif, disamping tumbuhnya
kemauan untuk mau belajar mematuhi aturan – aturan.
Tahap industry vs inferiority ini
meliputi dua kutub ekstrim,yaitu sense of industry dan sense of inferiority.
5.Identity vs role confusion
Erikson memperluas konsep yang
dikemukakan oleh Freud dimana proses identitas diri akan tumbuh dalam diri anak
pada saat mereka sudah memasuki tahap phallic(sekitar usia 4-6 tahun)dimana
pada saat itu anak-anak akan memperoleh kepuasan atau kekuasaan dengan jalan
mengimijinasikan hubungan yang erat antara dirinya dengan orang tua atau orang
lain yang mempunyai kelamin sejenis.
6.Intimacy vs Isolation
Menurut Ericson konflik
yang paling menonjol di tahap enam adalah intimacy di satu pihak dan isolation
di pihak lain.Dalam periode ini tali persahabatan mulai dikembangkan dengan
kuat, bahkan pengikatan hubungan dalam tali perkawinan mulai memperoleh tempat.
7.Generativity
vs. self –absorption
Setelah
memasuki hubungan perkawinan,kemudian membangun rumah tangga maka akan mengalami
konflik masalah partumbuhan dan
kemandengan.
8.Integrity
vs. despair
Dimensi psikososial
yang mencerminkan tercapainya kematangan konflik antara integrity dengan
despair .Ketidakmampuan menguasai salah satu konflik tersebut di atas, sudah
cukup untuk mengakibatkan kegagalan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi
seseorang
D.Memadukan
Pandangan Kohlberg,Piaget,dan Ericson
Teori Jean Piaget mengatakan bahwa semua
anak akan berkembang melalui urutan-urutan yang sama tanpa harus bergantung
pada tingkat pengalaman,kondisi keluarga bahkan kebudayan cenderung merupakan
kesimpulan yang kurang proposional.Sedangkan Erik H. Erikson yang melihat bahwa
perkembangan tiap-tiap tahap harus didukung oleh pranata-pranata budaya yang
kuat,utamanya oleh orang tua dan berikutnya oleh berbagai unsur
kemasyarakatan.Menurut Kolhberg perkembangan moral anak lebih didominasi oleh
perhatianya pada factor-faktor di dalam
individu sendiri dan kurang melihat pentingnya faktro-faktor lingkungan dan
sosial ,serta sama sekali meniadakan factor-faktor positif bawaanyang ada pada
anak.
Teori perkembangan dan pertimbangan moral
menurut piaget,kolhberg,maupun piaget dapat dijadikan sebagai pengetahuan dalam
membuka pemahaman awal terhadap perkembangan moral.Walaupun terdapa perbedaan
pandangan dan kekurangan dari masing-masing teori tersebut.
E.Implementasi Keterpaduan dalam Pembelajaran
Beberapa teori atau
pandangan yang dikemukakan sebelumnya memberikan inspirasi tentang perkembangan
dan eksisitensi siswa,pemilihan bahan pembelajaran dan strategi pembelajaran
dalam mewujudkan pembelajaran yang optimal.Pemahaman peserta didik merupakan
factor yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.Dalam
upaya – upaya pengembangan peserta didik agar mampu mngeaktualisasikan
potensi-potensi yang dimilikinya merupakan tanggung jawab seluruh guru.Untuk
terwujudnya iklim dan proses pembelajaran yang kondusif perlu didukung oleh
berbagai factor,baik berkenana dengan kemampuan guru,misalnya di dalam memilih
bahan ajar,sarana dan fasilitas pendukung serta yang tidak kalah pentingnya
kesiapan dan motivasi siswa dalam hal belajar untuk mencapai hasi belajar yang
optimal.
SIMPULAN
Proses pembelajaran
yang berdaya dan berhasil merupakan kegiatan yang bukan berdiri dengan
sendirinya, melainkan terkait dengan beberapa factor.Seperti factor guru adalah
sumber utama dalam hal proses belajar di dalam kelas.Guru harus bisa memahami
peserta didik dalam berbagai dimensinya.Dalam keadaan ini guru harus bisa
memahami keunikan-keunikan peserta didik agar dapat mendorong terjadinya
perkembangan secara optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Sukmadinata, Nana Syaodih, 2004, Landasan
Psikologi : Proses Pendidikan, Bandung : Pt. Remaja Rosdakarya
Suyono
and Hariyanto, 2011, Belajar
dan Pembelajaran, Teori dan Konsep Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Aunurrahman, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Bandung
: Alfabeta,CV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar