Selasa, 11 Februari 2014




PARADIGMA ALTERNATIF PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN

       Pembahasan pertama ini kita membahas tentang Paradigma Baru Pembelajaran. Seperti apa yang kita ketahui, banyak pandangan arahan tentang proses pendidikan yang semakin mendorong kita untuk terjadinya perubahan konsep terhadap pembelajaran sehingga dapat dijadikan acuan untuk memahami lebih dalam persoalan-soalan pembelajaran. Dengan mengadakan kajian paradigma alternative pembelajaran ini semoga para pendidik atau calon pendidik diharapkan dapat  memandang suatu masalah dan dapat pula mengambil keputusan yang terkait dengan pembelajaran sehingga upaya untuk mengembangkan potensi peserta pendidik sebagai pusat dari seluruh pembelajaran dapat terarah dengan baik yang akhirnya dapat berjalan seoptimal mungkin dan sesuai harapan.Pengkaji Paradigma Alternatif memberikan manfaat sehingga memungkinkan berkembangnya nuansa-nuansa baru yang lebih kreatif dan lebih baru adanya.
      Sedikit ulasan diatas, maka pada bagaian ini akan di paparkan tentang beberapa hal yang terkait dengan paradigm alternative pembelajaran, yaitu; perlunya paradigamaalternatif pembelajaran, belajar sebagai pilar utama pendidikan, d pembelajaran sebagai proses pemberdayaan diri.
1.      Mejelaskan perlunya paradigm alternative pendidikan
2.      Menjelaskan kedudukan pembelajaran sebagai pilar utama pendidikan
3.      Menjelaskan pembelajaran sebagai proses pemberdayaan diri.

A.Perlunya Paradigma Baru Pendidikan
    Dalam membangun masyarakat terdidik,kita harus merubah paradigma pembangunan yang lebih baik dari yang sebelumnya.Formalitas dan legalitas merupakan sesuatu hal yang penting tetapi,subtansi juga perlu diperhatikan jadi, tidak hanya formalitas saja yang perlu kita perhatikan karena keduanya saling berhubungan satu sama lain,Maka perlu adanya pembangunan paradigma baru pendidikan untuk mengubah system pendidikan yang sebelumnya,Dengan adanya paradigma baru akan lebih bertumpu pada pembelajaran kognitif dan kontruktivistik yaitu pembelajaran yang bertumpu pada inteletualitas siswa yang berlangsung secara sosial dan cultural.,Tugas belajar didesain secara sosial dan cultural ,mendorong siswa membangun pemahaman dan pengetahuan sendiri dalam konteks sosial,dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya.(Kamdi,2008).
      Dalam salah satu sambutannya,Mendiknas memberikan arah kebijakan mendasar dalam meletakkan kerangka bagi pembangunan pendidikan masa mendatang Manusia haruslah dipandang sebagai sumber daya yang utuh dimana suatu teori yang menempatkan manusia sebagai alat-alat reproduksi serta penguasaan iptek bertujuan untuk menopang kekuasaan dan kepentingan kapitalitas.(Kamdi,2008:2)
      Kelemahan terbesar dari lembaga –lembaga pendidikan dan pembelajaran menurut purwasasmita(2002:132) karena pendidikan tidak memilki basis pengembangan budaya yang jelas.Karena lembaga pendidikan kita hanya dikembangkan berdasarkan model ekonomik.Sehingga tidak mengherankan bila keluaran pendidikan kita menjadi manusia pencari kerja dan berdaya,bukan manusia kreatif pencipta keterkaitan kesejahteraan dalam siklus rangkaian manfaat yang seharusnya menjadi hal yang paling esensial dalam pendidikan dan pembelajaran.
    Pemikiran-pemikiran yang positif memberikan arahan bahwa sudah selayaknya jika pendidikan diarahkan pada upaya transformasi dan pengembangan prinsip-prinsip secara komprehensip dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran kepada para peserta didik perlu diberi bekal pengetahuan yang berguna untuk mengarungi kehidupan dalam masyarakat pluralis.baik dari aspek,etnisitas,cultural maupun agama.jika dunia pendidikan berhasil maka masyarakat makin lama akan berkembang menjadi masyarakat yang berkualitas scara intelektual dan moral.Namun sebaliknya,jika gagal maka bangsa tidak bisa berharap di masa depan akan sosok anak bangsa atau masyarakat yang cerdas serta mampu menjujung nilai-nilai luhur budayanya.
      Dalam proses pembelajaran komunikasi dialogis yang transparan,toleran dan tidak arogan seharusnya terwujud di dalam aktivitas pembelajaran.Memberikan kesempatan luas bagi setiap peserta didik untuk berdialog dan mempertanyakan mengenai pengembangan diri dan potensinya.Hal tersebut sangat penting bagi para pendidik karena pemimpin yang harus mengakomodasi berbagai pertanyaan dan kebutuhan peserta didik(Parkley:1996).Para pendidik maupun peserta didik,sesuai dengan kapasitasnya,harus berusaha untuk mampu saling menghormati pendapat atau pandangan orang lain.Suasana kesetaraan perlu dikembangan dengan berorientasi pada upaya mendorong peserta didik agar mampu menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada di antara sesame secara harmonis dan rasional.
     Dalam proses pembelajaran pengenbangan potensi-potensi siswa harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu,Karena pada umumnya para guru hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran pada bidang studinya saja(Gordon,1997:8).Padahal sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangan  sisa merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua sekolah dan guru.Guru disini memiliki peranan yang strategis terutama dalam upaya membentuk watak para anak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan.Dan peranan guru tidak dapat digantikan oleh yang lain(supriadi:1998).
    Mentri pendidikan Nasional,melalui sambutannya pada seminar lokarkaya nasional FORMOPPI-Balitbag Diknas 19 April 2005,Pendidikan harus memiliki keseimbangan dalam perananannya membangun peserta didk serta warga masyakat.Dengan demikian,secara filosofis arah pendidikan harus bisa menyemimbangan antara perkembangan global di satu sisi dan akar budaya dalam konteks local di sisi yang lain.Arah pendidikan harus dibekali dengan kompetensi yang bersifat subject matter dan kompetensi lintas kurikulum(cross-curriculer competnsier) yang diperlukan.
     Secara pedagogis arah pendidikan terkait dengan pengembangan pendekatan dan metodolgi proses pendidikan dan pembelajaran yang memanfaaatkan berbagai sumber belajar(multi learning resources).Dimana menempatkan guru sebagai fasilitator dan agen pembelajaran.

     B. Pembelajaran Sebagai Pilar Utama Pendidikan
            Bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya adalah(learning).Pendidkian bertumpu pada 4 pilar,yaitu(1)  learning to know,(2) learning to do,(3) learning to live together,learning to with others,dan (4) learning to be. Komisi Pendidikan untuk Abad XXI (Unesco 1996,85).

1)      Learning to know
Upaya  mengetahui instrument-instrument pengetahuan baik sebagai alat maupun sebagai tujuan.Sebagai tujuan maka pengetahuan tersebut akan sekedartahu manfaat untuk peningkatan,pemahaman,pengetahuan,serta penemuan di dalam kehidupannya.Upaya-upaya ini akan berlangsung secara terus menerus yang pada gilirannya melahirkan kembali konsep belajar sepanjang hayat.

2)      Learning to do
Lebih ditekankan pada bagaimana mengajarkan anak-anak untuk mempraktikan segala sesuatu yang telah dipelajarinya dan dapat mengadaptasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperolehnya tersebut dengan pekerjaan-pekerjaan di masa depan.Karena lapangan kerja masa mendatang akan sangat tergantung pada kemampuan untuk mengubah kemajuan dalam pengetahuan yang melahirkan usaha atau pekerjaan-pekerjaan baru.

3)      Learning to live together,learning to live with others
Pada dasarnya adalah belajar bermasyarakat mengajarkan,melatih dan membimbing peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauhi prangsangka-prangsangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik.Dengan demikian diharapkan kedamaian dan keharmonisan hidup benar-benar dapat diwujudkan.

4)      Learning to be
Pendidik dituntut untuk menjadi guru yang baik dan mengetahui karakteristik anak didiknya. Sebagaimana diungkapkan secara tegas oleh komisi pendidikan,bahwa prinsip fundamental pendidikan hendaklah mampu memberikan kontribusi untuk perkembangan.Siswa harus terus di suruh berfikir mandiri dan kritis dan mampu membuat keputusan sendiri serta mampu mengembangkan talenta dimilikinya.
Keempat pilar pendidikan sebagaimana di paparkan diatas merupakan misi dan tanggung jawab yang harus diemban oleh pendidikan.Melalui kegiatan belajar mengetahui,belajar berbuat,belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang atau belajar menjadi diri sendiri secara sungguh-sungguh maka wawasan dan pengetahuan seseorang tentang nilai-nilai positif,tentang orang lain serta dinamika perubahan yang terjadi.

C.Pembelajaran sebagai Proses Pembelajaran
Dalam proses belajar, pengenalan diri  mengenai diri sendiri atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalam upaya-upaya pemberdayaan diri  (self empowering)
Dalam proses pembelajaran, guru juga dituntut untuk mengetahui, membimbing dan memfasilitasi siwa. Agar siswa terdorong dan termotivasi untuk bekerja keras dalam belajar mewujudkan keberhasilan berdasarkan potensi yang siswa miliki

D.Paradigma Kontruktivisme dalam Pembelajaran
Konstruktivisme adalah respon terhadap berkembangnya harapan-harapan baru berkaitan dengan proses pembelajaran yang menginginkan peran aktif siswa dalam merekayasa dan memprakasai kegiatan belajarnya sendiri.Di sini pengetahuan yang menekankan  bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi( bentukan) kita sendiri. Pembelajaran ini lebih menitik beratkan pada  kemampuan siswa mengkonstruksi pengetahuan sendiri untuk memperdayakan fungsi-fungsi psikis dan mental yang dimilikinya.

SIMPULAN
Paradigma alternative proses pembelajaran yang membuat masyarakat berfikir baik dan cerdas untuk menjadikan masyarakat Indonesia lebih terdidik. Keempat pilar pembelajaran merupakan misi dan tanggung jawab yang harus diemban oleh pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
                   Sukmadinata, Nana Syaodih, 2004, Landasan Psikologi : Proses Pendidikan, Bandung : Pt. Remaja Rosdakarya
                   Suyono and Hariyanto, 2011, Belajar dan Pembelajaran, Teori dan Konsep Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Aunurrahman, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta,CV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar