MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
PENDAHULUAN
Keberhasilan
proses pembelajaran tidak terlepas dari
kemampuan guru untuk mengembangkan model-model pembelajaran berorientasi pada
peningkatan intensitas interaksi siswa dengan guru dalam prosem pembelajaran. Pengembangan
model pembelajaran yang tepat bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran
yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan untuk
mencapai hasil yang optimal.
Untuk
mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka setiap guru harus memiliki
pengetahuan yang memadai yang berkenaan dengan konsep dan cara-cara penerapan
model-model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan pemahaman
guru dengan perkembangan dan kondisi siswa di kelas.
A.
Hakikat Model Pembelajaran
Dalam
hal ini model – model pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan guru hendaknya
dapat mendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakan potensi yang mereka
miliki secara optimal. Model – model pembelajaran dikembangkan utamanya
beranjak dari adanya perbedaan berkaitan dengan berbagai karakteristik siswa.
Karena siswa memiliki berbagai karakteristik kepribadian, kebiasaan –
kebiasaan, modalitas belajar yang bervariasi antara individu satu dengan yang
lain, maka model pembelajaran guru juga harus selayaknya tidak terpaku hanya
pada model tertentu, akan tetapi harus bervariasi.
Penggunaan
model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa
terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan
tugas, memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga
memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik. Karena itu melalui
pemilihan model pembelajaran yang tepat guru dapat memilih atau menyesuaikan
jenis pendekatan dan metode pembelajaran dengan karakteristik materi pelajaran
yang disajikan.
B.
Kelompok dan Jenis – jenis Model
Pembelajaran
Ada
sejumlah pandangan atau pendapat
berkenaan dengan model pembelajaran yang perlu kita kaji untuk
memperluar pemahaman dan wawasan kita sehingga kita dapat semakin fleksibel
dalam menentukan salah satu atau beberapa model pembelajaran yang tepat.
Beberapa model pembelajaran tersebut antara lain dikemukakan oleh Lapp, Bender,
Ellenwood, & John (1975) yang berpendapat bahwa berbagai aktivitas belajar
mengajar dapat dijabarkan dari 4 model utama, yaitu;
1. The
Classical Model, dimana guru lebih menitikberatkan peranannya dalam pemberian
informasi melalui mata pelajaran dan materi pelajaran yang disajikannya.
2. The
Technological Model, yang lebih menitikberatkan peranan pendidikan sebagai
transmisi informasi, lebih dititikberatkan untuk mencapai kopetensi individual
siswa.
3. The
Personalised Model, dimana proses pembelajaran dikembangkan dengan
memperehatikan minat, pengalaman dan perkembangan siswa untuk mengatualisasikan
potensi – potensi individualitasnya.
4. The
Interaction Model, dengan menitikberatkan pola interdepensi antara guru dan
siswa sehingga tercipta komunikasi dialogis didalam proses pembelajaran.
1.
Kelompok model interaksi sosial (social
interaction models)
Model interaksi sosial adalah suatu
model pembelajaran yang beranjak dari pandangan bahwa segala sesuatu tidak
terlepas dari realitas kehidupan, individu tidak mungkin melepaskan dirinya
dari interaksi dengan orang lain. Model interaksi sosial didasarkan pada dua
asumsi pokok, yaitu; (1) masalah – masalah sosial dapat diidentifikasi dan
dipecahkan melalui kesepakatan – kesepakatan bersama melalui proses –proses
sosial dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, (2) proses sosial yang
demokratis yaitu dikembangkan dalam upaya perbaikan system kehidupan sosial
masyarakat secara terarah dan berkesinambungan.
Kelompok model interaksi sosial ini
meliputi sejumlah model, yaitu; investigasi kelompok (group
investigation),bermain peran (role play), penelitian yurisprodensial
(yurisprodential inquiry), latihan laboratories (laboratory training),
penelitian ilmu sosial (Social science inquiry).
a)
Investigasi Kelompok(group Investigasi)
Investigasi
kelompok sebagai wahana untuk mendorong dan membimbing keterlibatan siswa di
dalam proses pembelajaran.Sebagaimana diketahui bahwa keterlibatan siswa di
dalam proses sentral dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.Seorang guru dapat
menggunakan strategi investigasi kelompok di dalam proses pembelalajaran dengan
beberapa keadaan antara lain:
1) Bilamana
guru bermaksud agar siswa –siswamencapai studi tentang isi materi ,yangtidak
dapat dipahami darisajian yang terpusat pada guru.
2) Bilamana
guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih skeptic tentang ide-ide yang
disajikan.
3) Bilamana
guru meningkatkan minat pada siswa terhadapa topic dan motivasi mereka
membicarakan diluar kelas.
4) Bilamana
guru memberikan tindakan pencegahan yang diperlukan atas informasi yang berasal
dari orang lain yang memungkinkan mengaraha pada pemahaman kurang positif.
5)
Bilamana guru bermaksud
mengembangkan keterampilan=keterampilan yang dapat mereka pergunakan di dalam
situasi belajar yang lain,seperti halnya co-operative
learning
6)
Bilamana guru menginginkan
peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.
b.Bermain
peran (Rote Playing)
Model
ini dirancang khususnya untuk membantu siswa mempelajari nilai-nilai sosial dan
moral dan pencerminannya dalam perilaku.Model ini digunakan pula untuk membantu
siswa mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-isu moral dan sosial,mengembangkan
empati terhadap orang lain,dan berupaya memperbaiki keterampilan sosial.
Jika di telaah dari
esensinya ,model bermain peran lebih menitiki beratkan partisipan dan pengamat
dalam situasi atau masalah nyata serta berusaha mengatasinya.
c.Model Penelitian
Yurisprudensial(jurisprudential inquiry)
Pada dasarnya metode ini merupakan metode
studi kasus dalam proses peradilan dan selanjutnya diterapkan dalam suasana belajar
di sekolah.Dalam model ini juga didasarkan atas konsep tentang masyarakat dimana
terdapat perbedan-perbedaan pandangan dan prioritas bahkan konflik nilai antara
seseorang denganyang lain.
2.Kelompok model
pengolahan informasi(information
Processing Model)
Kelompok model
pengolahan informasi salah satu kelompok model pembelajaran yang lebih
menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses
atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kabalitas siswa melalui proses
pembelajaran.
a.Berpikir induktif(inductive thinking)
Model pembelajaran ini beranggapan
bahwa kemampuan berpikir seseorang tidak dengan sendirinya dapat berkembang
dengan baik jika proses pembelajaran dikembangkan tanpa memperhatikan
kesesuainnya dengan kebutuhan berpikir seseorang.
b.Pencapaian konsep(concept attainment)
Model pencapaian konsep
adalah pembelajaran yang dirancang untuk menata atau menyusun data sehingga
konsep-konsep penting data sehingga konsep-konsep penting dapat dipelajari
secara tepat dan efisien.Penerapan model
pencapaian konsep dalam pembelajaran meliputi tiga tahap pokok ,yaitu: tahap
pertama,presentasi data dan identifikasi konsep,tahap kedua ,menguji pencapaian
konsep,tahap ketiga,menganalisis kemampuan berfikir strategis.
c.Memorisasi
Model
ini diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa menyerap dan mengitegrasikan informasi sehingga siswa-siswa dapat
mengingat informasi yang telah diterima dan dapat me-recall kembali pada saat
yang diperlukan. Penerapan model memorisasi dilakukan melalui beberapa tahap;
(1) kegiatan dilakukan dengan menggaris bawahi bagian yang penting (2)
mengembangkan hubungan (3) mengembangkan sensori image, dengan menggunakan
teknik – teknik yang lucu (4) melatih re-call dengan memperhatikan tahap
sebelumnya.
d.
Advance organizers
Model
advance terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama menjelaskan panduan
pembelajaran, tahap kedua menjelaskan materi, dan tugas – tugas pembelajaran.
Tahap ketiga memper kokoh pengorganisasian kognitif.
e.
Penelitian Ilmiah
Esensi model penelitian
ilmiah adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah
dengan cara mengidentifikasi konsep atau metode pemecahan masalah pada kawasan
penelitian dan membantu mereka bagaimana cara mengatasi masalah.
f.
Inquiry Training
Model ini mengajarkan
siswa untuk mengkaji dan menjelaskan fenomena khusus tujuannya adalah membantu
siswa mengembangkan disiplin dan ketrampilan intelektual yang diperlukan untuk
mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya berdasarkan rasa ingin tahunya.
g.
Synectics
Sinektis adalah salah satu
pembelajaran yang didesain oleh Gordon yang pada dasarnya diarahkan untuk
mengembangkan kreatifitas. Penerapan model sinektik didalam proses pembelajaran
dilakukan melalui enam tahap; (1) guru menugaskan siswa mendeskripsikan situasi
yang ada. (2 )Siswa mengembangkan berbagai analogi kemudian mendeskripsikan dan
menjelaskan. (3) siswa menjadi bagian dari analogi. (4) siswa mengembangkan
pemikiran dalam bentuk deskripsi – deskripsi kemudian menemukan pertentangan.
(5) siswa menyimpulkan dan menentukan analogi – analogi tidak langsung. (6) guru mengarahkan agar siswa
kembali pada tugas dan masalah sebelumnya dengan menggunakan analogi analogi
terakhir.
3. Kelompok model
personal (The personal family model)
Model
personal dikembangkan dengan tujuan; (1) untuk mengarahkan perkembangan dan
kesehatan mental dan emosional melalui pengembangan rasa percaya diri. (2)
mengembangkan keseimbangan proses pendidikan beranjak dari kebutuhan dan
aspirasi siswa sendiri.
(3) mengembangkan aspek
– aspek khusus kemampuan berfikir kualitatif.
a. pembelajaran tanpa
arahan
Model pembelajaran tanpa arahan adalah model yang
berfokus pada upaya memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Implementasi model
pembelajaran tanpa arahan dilakukan dalam bentuk interview beberapa urutan yang
terbagi dalam lima fase. Fase pertama
membantu siswa mendefinisikan situasi, fase
kedua menemukan masalah, fase ketiga mengembangkan
pemahaman atau pengertian siswa, fase
keempat merencanakan dan merumuskan keputusan, fase kelima integrasi dimana siswa mendapatkan pemahaman lebih
mendalam dan mengembangkan tindakan – tindakan positif.
b. Model pembelajaran
untuk meningkatkan rasa percaya diri (Enhancing Self Esteem)
Terdapat beberapa model pembelajaran yang dapat
dipergunakan guru didalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa yang merupakan
bagian dari model – model personal.
1) Model
latiahan kesadaran (Ewareness Training Model)
Model
latihan kesadaran adalah model pembelajaran yang diarahkan untuk memperluas dan
kemampuan untuk merasa dan berfikir. Tujuan utamanya adalah membuka kemungkinan
tumbuhnya kesadaran terhadap diri dan hubungan interpersonal
2) Model
pertemuan kelas (classroom meeting)
Didalam
kelas model ini diwujudkan seperti layaknya rapat atau pertemuan diamana
kelompok bertanggung jawab membangun sistem sosial dengan tetap menghargai
tugas bersama dan hak orang lain.terdapat beberapa bentuk pertemuan kelas:
a. Pertemuan
untuk memecahkan masalah sosial
b. Pertemuan
yang tidak hanya terbatas bagi para siswa
c. Pertemuan
yang berkaitan dengan hal yang dipelajari didalam kelas
4. kelompok model –
model sistem prilaku
Model ini memusatkan perhatian pada prilaku yang teramati
(terobservasi) model mengajar kelompok ini mementingkan penciptaan sistem
lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi penguatan tingkah laku
(reinforcement) secara efektif sehingga terbentuk tingkah laku yang dikehendaki
Terdapat
beberapa bentuk model yang termasuk kelompok model ini yaitu belajar tuntas
(mastery learning), pengajaran langsung (direct instruction), simulasi
(Simulation).
a.
Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Pada
prinsipnya belajar tuntas adalah suatu aktifitas proses pembelajaran yang
bertujuan agar bahan ajar dapat secara tuntas oleh siswa
b.
Pengajaran langsung (Direct instruction)
Pembelajaran
langsung merupakan suatu model pembelajaran dimana kegiatannya terfokus pada
aktifitas –aktifitas akademik tujuan utama model pembelajaran langsung adalah
untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa.
c.
Simulasi (Simulation)
Simulasi
sebagai salah satu model pembelajaran merupakan penerapan dari prinsip
(cybernetic) sebagai salah satu cabang psikologi. Melalui model ini guru
mengontrol partisipasi siswa untuk menjamin bahwa kelebihan atau keuntungan
dari model ini dapat di capai.
SIMPULAN
Berkembangnya berbagai
jenis model pembelajaran pada prinsipnya didasari pemikiran tentang keberagaman
siswa, baik dilihat dari perbedaan kemampuan, modalitas belajar, motivasi,
minat dan beberapa dimensi psikologis lainnya. Pengembangan model pembelajaran
tidak terlepas dari pemahaman guru terhadap karakteristik siswa sebagaimana
pula dipengimplementasian prinsip –prinsip belajar yang pernah kita bahas
sebelumnya meskipun terdapat model pembelajaran yang berbeda, namun antara satu
model dengan model yang lain tidak bersifat deskrit.
DAFTAR
PUSTAKA
Suyono
and Hariyanto, 2011, Belajar
dan Pembelajaran, Teori dan Konsep Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Aunurrahman, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Bandung
: Alfabeta,CV.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar