PARADIGMA
ALTERNATIF PEMBELAJARAN
PENDAHULUAN
Pembahasan pertama ini kita membahas
tentang Paradigma Baru Pembelajaran. Seperti apa yang kita ketahui, banyak
pandangan arahan tentang proses pendidikan yang semakin mendorong kita untuk
terjadinya perubahan konsep terhadap pembelajaran sehingga dapat dijadikan
acuan untuk memahami lebih dalam persoalan-soalan pembelajaran. Dengan
mengadakan kajian paradigma alternative pembelajaran ini semoga para pendidik
atau calon pendidik diharapkan dapat
memandang suatu masalah dan dapat pula mengambil keputusan yang terkait
dengan pembelajaran sehingga upaya untuk mengembangkan potensi peserta pendidik
sebagai pusat dari seluruh pembelajaran dapat terarah dengan baik yang akhirnya
dapat berjalan seoptimal mungkin dan sesuai harapan.Pengkaji Paradigma
Alternatif memberikan manfaat sehingga memungkinkan berkembangnya nuansa-nuansa
baru yang lebih kreatif dan lebih baru adanya.
Sedikit ulasan diatas, maka pada bagaian
ini akan di paparkan tentang beberapa hal yang terkait dengan paradigm
alternative pembelajaran, yaitu; perlunya paradigamaalternatif pembelajaran,
belajar sebagai pilar utama pendidikan, d pembelajaran sebagai proses
pemberdayaan diri.
1. Mejelaskan
perlunya paradigm alternative pendidikan
2. Menjelaskan
kedudukan pembelajaran sebagai pilar utama pendidikan
3. Menjelaskan
pembelajaran sebagai proses pemberdayaan diri.
A.Perlunya
Paradigma Baru Pendidikan
Dalam membangun masyarakat terdidik,kita
harus merubah paradigma pembangunan yang lebih baik dari yang
sebelumnya.Formalitas dan legalitas merupakan sesuatu hal yang penting
tetapi,subtansi juga perlu diperhatikan jadi, tidak hanya formalitas saja yang
perlu kita perhatikan karena keduanya saling berhubungan satu sama lain,Maka
perlu adanya pembangunan paradigma baru pendidikan untuk mengubah system
pendidikan yang sebelumnya,Dengan adanya paradigma baru akan lebih bertumpu
pada pembelajaran kognitif dan kontruktivistik yaitu pembelajaran yang bertumpu
pada inteletualitas siswa yang berlangsung secara sosial dan cultural.,Tugas
belajar didesain secara sosial dan cultural ,mendorong siswa membangun
pemahaman dan pengetahuan sendiri dalam konteks sosial,dan belajar dimulai dari
pengetahuan awal dan perspektif budaya.(Kamdi,2008).
Dalam salah satu sambutannya,Mendiknas
memberikan arah kebijakan mendasar dalam meletakkan kerangka bagi pembangunan
pendidikan masa mendatang Manusia haruslah dipandang sebagai sumber daya yang
utuh dimana suatu teori yang menempatkan manusia sebagai alat-alat reproduksi
serta penguasaan iptek bertujuan untuk menopang kekuasaan dan kepentingan
kapitalitas.(Kamdi,2008:2)
Kelemahan terbesar dari lembaga –lembaga
pendidikan dan pembelajaran menurut purwasasmita(2002:132) karena pendidikan
tidak memilki basis pengembangan budaya yang jelas.Karena lembaga pendidikan
kita hanya dikembangkan berdasarkan model ekonomik.Sehingga tidak mengherankan
bila keluaran pendidikan kita menjadi manusia pencari kerja dan berdaya,bukan
manusia kreatif pencipta keterkaitan kesejahteraan dalam siklus rangkaian
manfaat yang seharusnya menjadi hal yang paling esensial dalam pendidikan dan
pembelajaran.
Pemikiran-pemikiran yang positif memberikan
arahan bahwa sudah selayaknya jika pendidikan diarahkan pada upaya transformasi
dan pengembangan prinsip-prinsip secara komprehensip dalam penyelenggaraan
pendidikan dan pembelajaran kepada para peserta didik perlu diberi bekal
pengetahuan yang berguna untuk mengarungi kehidupan dalam masyarakat pluralis.baik
dari aspek,etnisitas,cultural maupun agama.jika dunia pendidikan berhasil maka
masyarakat makin lama akan berkembang menjadi masyarakat yang berkualitas scara
intelektual dan moral.Namun sebaliknya,jika gagal maka bangsa tidak bisa
berharap di masa depan akan sosok anak bangsa atau masyarakat yang cerdas serta
mampu menjujung nilai-nilai luhur budayanya.
Dalam proses pembelajaran komunikasi dialogis
yang transparan,toleran dan tidak arogan seharusnya terwujud di dalam aktivitas
pembelajaran.Memberikan kesempatan luas bagi setiap peserta didik untuk
berdialog dan mempertanyakan mengenai pengembangan diri dan potensinya.Hal
tersebut sangat penting bagi para pendidik karena pemimpin yang harus
mengakomodasi berbagai pertanyaan dan kebutuhan peserta didik(Parkley:1996).Para
pendidik maupun peserta didik,sesuai dengan kapasitasnya,harus berusaha untuk
mampu saling menghormati pendapat atau pandangan orang lain.Suasana kesetaraan
perlu dikembangan dengan berorientasi pada upaya mendorong peserta didik agar
mampu menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada di antara sesame secara
harmonis dan rasional.
Dalam proses pembelajaran pengenbangan
potensi-potensi siswa harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu,Karena pada
umumnya para guru hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran pada
bidang studinya saja(Gordon,1997:8).Padahal sesungguhnya pertumbuhan dan
perkembangan sisa merupakan tujuan yang
ingin dicapai oleh semua sekolah dan guru.Guru disini memiliki peranan yang
strategis terutama dalam upaya membentuk watak para anak bangsa melalui
pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan.Dan peranan guru tidak
dapat digantikan oleh yang lain(supriadi:1998).
Mentri pendidikan Nasional,melalui
sambutannya pada seminar lokarkaya nasional FORMOPPI-Balitbag Diknas 19 April
2005,Pendidikan harus memiliki keseimbangan dalam perananannya membangun
peserta didk serta warga masyakat.Dengan demikian,secara filosofis arah
pendidikan harus bisa menyemimbangan antara perkembangan global di satu sisi
dan akar budaya dalam konteks local di sisi yang lain.Arah pendidikan harus
dibekali dengan kompetensi yang bersifat subject matter dan kompetensi lintas
kurikulum(cross-curriculer competnsier) yang diperlukan.
Secara pedagogis arah pendidikan terkait
dengan pengembangan pendekatan dan metodolgi proses pendidikan dan pembelajaran
yang memanfaaatkan berbagai sumber belajar(multi learning resources).Dimana
menempatkan guru sebagai fasilitator dan agen pembelajaran.
B. Pembelajaran Sebagai Pilar Utama
Pendidikan
Bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya
adalah(learning).Pendidkian bertumpu pada 4 pilar,yaitu(1) learning to know,(2) learning to do,(3)
learning to live together,learning to with others,dan (4) learning to be.
Komisi Pendidikan untuk Abad XXI (Unesco 1996,85).
1) Learning to know
Upaya mengetahui instrument-instrument pengetahuan
baik sebagai alat maupun sebagai tujuan.Sebagai tujuan maka pengetahuan
tersebut akan sekedartahu manfaat untuk peningkatan,pemahaman,pengetahuan,serta
penemuan di dalam kehidupannya.Upaya-upaya ini akan berlangsung secara terus
menerus yang pada gilirannya melahirkan kembali konsep belajar sepanjang hayat.
2) Learning to do
Lebih
ditekankan pada bagaimana mengajarkan anak-anak untuk mempraktikan segala
sesuatu yang telah dipelajarinya dan dapat mengadaptasikan
pengetahuan-pengetahuan yang telah diperolehnya tersebut dengan
pekerjaan-pekerjaan di masa depan.Karena lapangan kerja masa mendatang akan
sangat tergantung pada kemampuan untuk mengubah kemajuan dalam pengetahuan yang
melahirkan usaha atau pekerjaan-pekerjaan baru.
3) Learning to live together,learning
to live with others
Pada
dasarnya adalah belajar bermasyarakat mengajarkan,melatih dan membimbing
peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang
baik, menjauhi prangsangka-prangsangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi
dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik.Dengan demikian diharapkan
kedamaian dan keharmonisan hidup benar-benar dapat diwujudkan.
4) Learning to be
Pendidik
dituntut untuk menjadi guru yang baik dan mengetahui karakteristik anak
didiknya. Sebagaimana diungkapkan secara tegas oleh komisi pendidikan,bahwa
prinsip fundamental pendidikan hendaklah mampu memberikan kontribusi untuk
perkembangan.Siswa harus terus di suruh berfikir mandiri dan kritis dan mampu
membuat keputusan sendiri serta mampu mengembangkan talenta dimilikinya.
Keempat pilar
pendidikan sebagaimana di paparkan diatas merupakan misi dan tanggung jawab
yang harus diemban oleh pendidikan.Melalui kegiatan belajar mengetahui,belajar
berbuat,belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang atau belajar
menjadi diri sendiri secara sungguh-sungguh maka wawasan dan pengetahuan
seseorang tentang nilai-nilai positif,tentang orang lain serta dinamika
perubahan yang terjadi.
C.Pembelajaran
sebagai Proses Pembelajaran
Dalam
proses belajar, pengenalan diri mengenai
diri sendiri atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalam
upaya-upaya pemberdayaan diri (self empowering)
Dalam proses
pembelajaran, guru juga dituntut untuk mengetahui, membimbing dan memfasilitasi
siwa. Agar siswa terdorong dan termotivasi untuk bekerja keras dalam belajar
mewujudkan keberhasilan berdasarkan potensi yang siswa miliki
D.Paradigma
Kontruktivisme dalam Pembelajaran
Konstruktivisme
adalah respon terhadap berkembangnya harapan-harapan baru berkaitan dengan
proses pembelajaran yang menginginkan peran aktif siswa dalam merekayasa dan
memprakasai kegiatan belajarnya sendiri.Di sini pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita adalah
konstruksi( bentukan) kita sendiri. Pembelajaran ini lebih menitik beratkan
pada kemampuan siswa mengkonstruksi
pengetahuan sendiri untuk memperdayakan fungsi-fungsi psikis dan mental yang
dimilikinya.
SIMPULAN
Paradigma alternative proses
pembelajaran yang membuat masyarakat berfikir baik dan cerdas untuk menjadikan
masyarakat Indonesia lebih terdidik. Keempat pilar pembelajaran merupakan misi
dan tanggung jawab yang harus diemban oleh pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sukmadinata, Nana
Syaodih, 2004, Landasan Psikologi : Proses Pendidikan, Bandung : Pt.
Remaja Rosdakarya
Suyono
and Hariyanto, 2011, Belajar
dan Pembelajaran, Teori dan Konsep Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Aunurrahman, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Bandung
: Alfabeta,CV