Selasa, 11 Februari 2014




PARADIGMA ALTERNATIF PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN

       Pembahasan pertama ini kita membahas tentang Paradigma Baru Pembelajaran. Seperti apa yang kita ketahui, banyak pandangan arahan tentang proses pendidikan yang semakin mendorong kita untuk terjadinya perubahan konsep terhadap pembelajaran sehingga dapat dijadikan acuan untuk memahami lebih dalam persoalan-soalan pembelajaran. Dengan mengadakan kajian paradigma alternative pembelajaran ini semoga para pendidik atau calon pendidik diharapkan dapat  memandang suatu masalah dan dapat pula mengambil keputusan yang terkait dengan pembelajaran sehingga upaya untuk mengembangkan potensi peserta pendidik sebagai pusat dari seluruh pembelajaran dapat terarah dengan baik yang akhirnya dapat berjalan seoptimal mungkin dan sesuai harapan.Pengkaji Paradigma Alternatif memberikan manfaat sehingga memungkinkan berkembangnya nuansa-nuansa baru yang lebih kreatif dan lebih baru adanya.
      Sedikit ulasan diatas, maka pada bagaian ini akan di paparkan tentang beberapa hal yang terkait dengan paradigm alternative pembelajaran, yaitu; perlunya paradigamaalternatif pembelajaran, belajar sebagai pilar utama pendidikan, d pembelajaran sebagai proses pemberdayaan diri.
1.      Mejelaskan perlunya paradigm alternative pendidikan
2.      Menjelaskan kedudukan pembelajaran sebagai pilar utama pendidikan
3.      Menjelaskan pembelajaran sebagai proses pemberdayaan diri.

A.Perlunya Paradigma Baru Pendidikan
    Dalam membangun masyarakat terdidik,kita harus merubah paradigma pembangunan yang lebih baik dari yang sebelumnya.Formalitas dan legalitas merupakan sesuatu hal yang penting tetapi,subtansi juga perlu diperhatikan jadi, tidak hanya formalitas saja yang perlu kita perhatikan karena keduanya saling berhubungan satu sama lain,Maka perlu adanya pembangunan paradigma baru pendidikan untuk mengubah system pendidikan yang sebelumnya,Dengan adanya paradigma baru akan lebih bertumpu pada pembelajaran kognitif dan kontruktivistik yaitu pembelajaran yang bertumpu pada inteletualitas siswa yang berlangsung secara sosial dan cultural.,Tugas belajar didesain secara sosial dan cultural ,mendorong siswa membangun pemahaman dan pengetahuan sendiri dalam konteks sosial,dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya.(Kamdi,2008).
      Dalam salah satu sambutannya,Mendiknas memberikan arah kebijakan mendasar dalam meletakkan kerangka bagi pembangunan pendidikan masa mendatang Manusia haruslah dipandang sebagai sumber daya yang utuh dimana suatu teori yang menempatkan manusia sebagai alat-alat reproduksi serta penguasaan iptek bertujuan untuk menopang kekuasaan dan kepentingan kapitalitas.(Kamdi,2008:2)
      Kelemahan terbesar dari lembaga –lembaga pendidikan dan pembelajaran menurut purwasasmita(2002:132) karena pendidikan tidak memilki basis pengembangan budaya yang jelas.Karena lembaga pendidikan kita hanya dikembangkan berdasarkan model ekonomik.Sehingga tidak mengherankan bila keluaran pendidikan kita menjadi manusia pencari kerja dan berdaya,bukan manusia kreatif pencipta keterkaitan kesejahteraan dalam siklus rangkaian manfaat yang seharusnya menjadi hal yang paling esensial dalam pendidikan dan pembelajaran.
    Pemikiran-pemikiran yang positif memberikan arahan bahwa sudah selayaknya jika pendidikan diarahkan pada upaya transformasi dan pengembangan prinsip-prinsip secara komprehensip dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran kepada para peserta didik perlu diberi bekal pengetahuan yang berguna untuk mengarungi kehidupan dalam masyarakat pluralis.baik dari aspek,etnisitas,cultural maupun agama.jika dunia pendidikan berhasil maka masyarakat makin lama akan berkembang menjadi masyarakat yang berkualitas scara intelektual dan moral.Namun sebaliknya,jika gagal maka bangsa tidak bisa berharap di masa depan akan sosok anak bangsa atau masyarakat yang cerdas serta mampu menjujung nilai-nilai luhur budayanya.
      Dalam proses pembelajaran komunikasi dialogis yang transparan,toleran dan tidak arogan seharusnya terwujud di dalam aktivitas pembelajaran.Memberikan kesempatan luas bagi setiap peserta didik untuk berdialog dan mempertanyakan mengenai pengembangan diri dan potensinya.Hal tersebut sangat penting bagi para pendidik karena pemimpin yang harus mengakomodasi berbagai pertanyaan dan kebutuhan peserta didik(Parkley:1996).Para pendidik maupun peserta didik,sesuai dengan kapasitasnya,harus berusaha untuk mampu saling menghormati pendapat atau pandangan orang lain.Suasana kesetaraan perlu dikembangan dengan berorientasi pada upaya mendorong peserta didik agar mampu menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada di antara sesame secara harmonis dan rasional.
     Dalam proses pembelajaran pengenbangan potensi-potensi siswa harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu,Karena pada umumnya para guru hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran pada bidang studinya saja(Gordon,1997:8).Padahal sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangan  sisa merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua sekolah dan guru.Guru disini memiliki peranan yang strategis terutama dalam upaya membentuk watak para anak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan.Dan peranan guru tidak dapat digantikan oleh yang lain(supriadi:1998).
    Mentri pendidikan Nasional,melalui sambutannya pada seminar lokarkaya nasional FORMOPPI-Balitbag Diknas 19 April 2005,Pendidikan harus memiliki keseimbangan dalam perananannya membangun peserta didk serta warga masyakat.Dengan demikian,secara filosofis arah pendidikan harus bisa menyemimbangan antara perkembangan global di satu sisi dan akar budaya dalam konteks local di sisi yang lain.Arah pendidikan harus dibekali dengan kompetensi yang bersifat subject matter dan kompetensi lintas kurikulum(cross-curriculer competnsier) yang diperlukan.
     Secara pedagogis arah pendidikan terkait dengan pengembangan pendekatan dan metodolgi proses pendidikan dan pembelajaran yang memanfaaatkan berbagai sumber belajar(multi learning resources).Dimana menempatkan guru sebagai fasilitator dan agen pembelajaran.

     B. Pembelajaran Sebagai Pilar Utama Pendidikan
            Bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya adalah(learning).Pendidkian bertumpu pada 4 pilar,yaitu(1)  learning to know,(2) learning to do,(3) learning to live together,learning to with others,dan (4) learning to be. Komisi Pendidikan untuk Abad XXI (Unesco 1996,85).

1)      Learning to know
Upaya  mengetahui instrument-instrument pengetahuan baik sebagai alat maupun sebagai tujuan.Sebagai tujuan maka pengetahuan tersebut akan sekedartahu manfaat untuk peningkatan,pemahaman,pengetahuan,serta penemuan di dalam kehidupannya.Upaya-upaya ini akan berlangsung secara terus menerus yang pada gilirannya melahirkan kembali konsep belajar sepanjang hayat.

2)      Learning to do
Lebih ditekankan pada bagaimana mengajarkan anak-anak untuk mempraktikan segala sesuatu yang telah dipelajarinya dan dapat mengadaptasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperolehnya tersebut dengan pekerjaan-pekerjaan di masa depan.Karena lapangan kerja masa mendatang akan sangat tergantung pada kemampuan untuk mengubah kemajuan dalam pengetahuan yang melahirkan usaha atau pekerjaan-pekerjaan baru.

3)      Learning to live together,learning to live with others
Pada dasarnya adalah belajar bermasyarakat mengajarkan,melatih dan membimbing peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauhi prangsangka-prangsangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik.Dengan demikian diharapkan kedamaian dan keharmonisan hidup benar-benar dapat diwujudkan.

4)      Learning to be
Pendidik dituntut untuk menjadi guru yang baik dan mengetahui karakteristik anak didiknya. Sebagaimana diungkapkan secara tegas oleh komisi pendidikan,bahwa prinsip fundamental pendidikan hendaklah mampu memberikan kontribusi untuk perkembangan.Siswa harus terus di suruh berfikir mandiri dan kritis dan mampu membuat keputusan sendiri serta mampu mengembangkan talenta dimilikinya.
Keempat pilar pendidikan sebagaimana di paparkan diatas merupakan misi dan tanggung jawab yang harus diemban oleh pendidikan.Melalui kegiatan belajar mengetahui,belajar berbuat,belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang atau belajar menjadi diri sendiri secara sungguh-sungguh maka wawasan dan pengetahuan seseorang tentang nilai-nilai positif,tentang orang lain serta dinamika perubahan yang terjadi.

C.Pembelajaran sebagai Proses Pembelajaran
Dalam proses belajar, pengenalan diri  mengenai diri sendiri atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalam upaya-upaya pemberdayaan diri  (self empowering)
Dalam proses pembelajaran, guru juga dituntut untuk mengetahui, membimbing dan memfasilitasi siwa. Agar siswa terdorong dan termotivasi untuk bekerja keras dalam belajar mewujudkan keberhasilan berdasarkan potensi yang siswa miliki

D.Paradigma Kontruktivisme dalam Pembelajaran
Konstruktivisme adalah respon terhadap berkembangnya harapan-harapan baru berkaitan dengan proses pembelajaran yang menginginkan peran aktif siswa dalam merekayasa dan memprakasai kegiatan belajarnya sendiri.Di sini pengetahuan yang menekankan  bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi( bentukan) kita sendiri. Pembelajaran ini lebih menitik beratkan pada  kemampuan siswa mengkonstruksi pengetahuan sendiri untuk memperdayakan fungsi-fungsi psikis dan mental yang dimilikinya.

SIMPULAN
Paradigma alternative proses pembelajaran yang membuat masyarakat berfikir baik dan cerdas untuk menjadikan masyarakat Indonesia lebih terdidik. Keempat pilar pembelajaran merupakan misi dan tanggung jawab yang harus diemban oleh pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
                   Sukmadinata, Nana Syaodih, 2004, Landasan Psikologi : Proses Pendidikan, Bandung : Pt. Remaja Rosdakarya
                   Suyono and Hariyanto, 2011, Belajar dan Pembelajaran, Teori dan Konsep Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Aunurrahman, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta,CV





HAKIKAT DAN CIRI-CIRI BELAJAR


PENDAHULUAN
       Kita mungkin tidak merasa asing dengan istilah belajar,karena istilah ini tidak terbatas penggunaannya dalam kegiatan formal pendidikan di sekolah ,akan tetapi juga dipergunakan untuk menyatakan aktivitas keseharian yang berkenaan dengan upaya mendapatkan informasi,pengetahuan,atau keterampilan baru yang belum diketahui atau untuk memperluas pengetahuan tentang sesuatu yang dimilikinya.
Istilah belajar mungkin tidak asing di telinga kita karean istilah ini tidak terbatas penggunaannya dalam kegiatan kita sehari-hari yang berkenaan dengan upaya untuk memperoleh informasi, pengetahuan atau keterampilan baru yang sebelumnya belum diketahui sehingga kita mengetahuinya. Istilah ini tidak asing bagi kita,  akan tetapidipandang perlu mengkaji kembali secara lebih mendalam agar kita semua mengetahui hakikat belajar, sekaligus membenarkan apakah kegiatan-kegiatan yang selama in kita sebut belajar, apa sudah sesuai dengan hakikat belajar sesungguhnya, terutama mengacu pasa paradigm pembelajaran yang telah kita bahas di bab sebelumnya. Oleh sebab itu pada bab ini kita akan mengulas hakikat dan cirri-ciri belajar, dimulai dari pengertian belajar, dan implikasinya.
Terkaiat dalam pembahasan ini, kita akan membahas;

A.   Pengertian Belajar
      Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar,baik ketika melakukan aktivitas sendiri ataupun bersama kelompok.Dipahami ataupun tidak dipahami ,sebenarnya aktivitas yang kita lakukan di dalam kehidupan sehari-hari merupakan aktivitas belajar.Dengan demikian  tidak ada ruang dan waktu di mana manusia dapat melepas diri dari kegiatan belajar dan belajar tidak ada batasan usia,tempat dan waktu,karena perubahan terjadinya aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti.
     Belajar merupakan kegiatan penting bagi manusia.survey memperlihatkan bahwa 82% anak-anak yang sekolah pada usia 5 ataun 6  tahun memilki citra diri yang positif tentang kemampuan belajar mereka sendiri.Tetapi,angka menjadi turun menjadin 18% saat berusia 16 tahun.Konsekuesinya 4 dan 5 remaja dan dewasa (Nichol,2002:37)
        Ada beberapa terminology yang terkait dengan belajar yang seringkali menimbulkan keraguan dalam penggunaanya terutama di kalangan siswa atau mahasiswa, yakni terminology tentang belajar,pembelajaran dan belajar.Mengajar dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.Situasi pembelajaran tidak harus berupa transformasi dari guru kepada siswa tetapi bisa dilakukan denganmedia lain yang sudah disiapkan.Istilah pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar di mana didalamnya terjadi guru dan siswa dan antara sesama siswa             
        Pembelajaran berupaya mengubah masukan siswa belum terdidik menjadi terdidik siswa yang belum mengetahui tentang pengetahuan menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.Demikina bagi siswa yang belum memiliki sikap atau kepribadian yang baik atau posistif menjadi pribadi yang baik.
Dari berbagai pengertian mengenai belajar tersebut kita menemukan beberapa cirri umum kegiatan belajar sebagai berikut;
Pertama, belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja. Disini berartii bahwa belajar merupakan kegiatan yang disengaja atau direncanakan seseorang dalam suatu aktivitas tertentu.
Kedua, belajar merupakan interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau objek-objek lain yang ada disekitar kita yang dapat atau telah mendukung proses belajar berupa pengalaman atau pengetahuan baru serta mengembangkan pengetahuan yang kita peroleh sebelumnya,
Ketiga, hasil belajar ditandai dengan peruba. perubahan  tingkah laku. Aktivitas belajar umumnya disertai dengan perubahan tingkah laku.
Berikut ini adalah beberapa kelompok teori yang memberikan pandangan khusus tentang belajar, diantaranya Behaviorisme, Kognitivisme, Teori belajar psyko sosial dan Teori belajar Gagne.
1.      Behaviorisme
Para teori ini meyakini bahwa teori sangat dipengaruhi oleh kejadian –kejadian lingkungannya yang memberikan pengalaman-pengalaman tertentu kepadanya.Behaviorisme menekankan pada apa yang dilihat(tingkah laku) dan kurang memperhatikan apa yang ada di dalam pikiran karena tidak terlihat.Mengajar sedemikian dilakukan dengan kondisioning, pembiasaan, peniruan. Hadian dan hukuman sering ditawarkan dalam mengajar dan belajar demikian. Kedaulatan guru dalam belajar demikian relatif tinggi, sementara kedaulatan siswa sebalikya, relatif rendah.
2.      Kognitivisme
Menurut teori belajar tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi atau pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya.Teori ini menekankan bahwa bagian-bagian satu situasi saling berhubungan denagn konteks seluruh situasi tersebut.
Karena teori ini lebih menekankan pada kebermaknaan seluruh sesuatu dari pada bagian-bagian, maka belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan factor-faktor lain. Proses belajar disini mencakup antara lain pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikanya dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorangberdasarkan pengalaman sebelumnya.


c.       Psikologi Sosial
pandangan Psiko Sosial secara mendasar mengungkapkan bahwa belajar pada hakikatnya merupakan suatu prose salami. Setiap oaring memiliki kebutuhan dan tujuan yang menjadi motivasi penting dalam proses belajar. Belajar akan lebih lancer jika materi yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan pribadi orang yang belajar, serta diberi kesempatan bertanggung jawab atas apa yang dipelajarinya.
Menurut teori belajar psiko sosial proses belajar jarang sekali merupakan proses yang terjadi dalam keadaan menyendiri, akan tetapi melalui interaksi-interaksi.
Pandangan ini merupakan konvergensi dari pandangan behavioristik dan humanistik. Menurut pandangan demikian belajar merupakan perpaduan dari usaha pribadi dengan kontrolinstrumental yang berasal dari lingkungan. Oleh karena itu, metode belajar yang cocok dalam pandangan ini adalah eksperimentasi.
d.      Teori Belajar Gagne
Gagne mengkategorikan taksonomi hasil belajar dalam lima komponen, yaitu: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motorik. Ia mengatakan, hal tersebut dikarenakan atas asumsi bahwa hasil belajar yang berbeda tersebut memerlukan kondisi belajar yang berbeda pula.Artinya, untuk membangun strategi kognitif siswa memerlukan kondisi berbeda dengan ketika kita ingin membangun sikap atau keterampilan motorik. Hal kedua dari teorinya Gagne adalah kondisi belajar khusus (specifik learning condition). Ia menekankan bahwa sangatlah penting untuk mengkategorisasikan tujuan pembelajaran sesuai dengan tipe hasil belajar, alias taksonomi seperti dijelaskan di atas. Dengan cara seperti ini guru/tutor/dosen dapat merancang pembelajarannya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Ia juga menekankan bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, harus sangat-sangat memperhatikan kondisi khusus (critical condition) yang harus disiapkan untuk mencapai itu.


B.     Ciri-ciri dan Tujuan Belajar
Sebagaimana telah kitabahas sebelumnya belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yaitu relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman .Dfinisi ini mencakup tiga unsure yaitu:(1) belajaradalah perubahan tingkah laku 2) perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman,3) perubahan tingkah laku tersebut relative permanen atau tetap ada untuk waktu yang cukup lama.

C.     Tujuan Belajar
Paling tidak adaempat alasan mengapa tujuan belajar ini perlu dirumuskan oleh pembelajar. Pertama, agar  ia mempunyai arah dalam berkreativitas belajar. Kedua,  agar ia dapat menilai seberapa target belajar telah ia capai atau belum. Ketiga, agar waktu dan tenaganya tidak tersita untuk kegiatan selain belajar.Tujuan belajar dalam hubungannya dengan perubahan tingkah laku. Salah satu ciri belajar pada diri seseorang adalah terdapatnya perubahan tingkahlaku pada dirinya.

SIMPULAN
Ada berbagai pandangan atau teori belajar yang sangat berpengaruh terhadap berkembangnya pandangan dan konsep tentang belajar diantaranya: behaviorisme, kognitivisme, teori psikologi Sosial, dan teori belajar Gagne. Meskipun terdapat penekanan yang berbeda, namun kesamaannya terutama adalah bahwa belajar merupakan proses internal yang kompleks, yang melibatken seluruh mental pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

DAFTAR PUSTAKA
                   Sukmadinata, Nana Syaodih, 2004, Landasan Psikologi : Proses Pendidikan, Bandung : Pt. Remaja Rosdakarya
                   Suyono and Hariyanto, 2011, Belajar dan Pembelajaran, Teori dan Konsep Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Aunurrahman, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta,CV



PERKEMBANGAN MORAL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN


PENDAHULUAN
Dalam pembahasan sebelumnya kita telah membahas bahwa salah satu unsur penting dalam pelaksanaan pembelajaran adalah pemahaman peserta didik. Aspek-aspek terkait dengan pesrta didik adalah fisik dan psikis dalam teori pengembangan moral Kohlberg memberikan penekanan tentang pentingnya pemahaman guru terhadap perkembangan moral anak sebagai bagian karakteristik individu. Dengan memahami perkembangan moral siswa  maka guru dapat mengeksplor, memilih dan menentukan bahan belajar dan strategi, model-model pembelajaran  yang tepat untuk  proses pembelajaran yang efektif guna mencapai hasil yang optimal.
      Di dalam bab ini membahas perkembangn moral serta implementasi dalam pembelajaran di dalam kelas .Pembahasan bab ini perkembangan moral.antara teori jean piaget,teori perkembangan moral Kohlberg,pandangan Psikologi Sosial Erik H.Erikson dan implementasinya keterpaduan teori-teori di bahas dalam bab ini.

A.Teori Perkembangan Jean Piaget
Dalam proses pembelajaran guru sering kali dihadapkan dengan berbagai dinamika mengenai perkembangan peserta didik.Perubahan-perubahan dari peserta didik ini harus mendapatkan perhatian dari guru,karena guru bisa memilih strategi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Dalam teorinya, piaget mengungkapkan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda. Semua perubahan yang terjadi pada setiap tahap tersebut merupakan kondisi yang diperlukan untuk mengubah perkembangan moral berikutnya.
Berkaitan dengan perkembangan moral, piaget mengemukakan dua tahap perkembangan yang dialami oleh setiap individu. Tahap pertama disebut “Heterenomous” atau tahap “ Realisme moral” dalam tahap ini seorang anak cenderung menerima aturan begitu saja. Tahap kedua disebut “Autonomous morality” atau “Independensi moral” dalam tahap ini seorang anak memandang perlu untuk memodifikasi aturan – aturan swesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Dalam pandangan piaget tahap – tahap kognitif mempunyai kaitan yang sangat kuat dengan empat karakteristik berikut
1.      Setiap anak pada usia berbeda menempatkan cara –cara yang berbeda secara kualitatif, dalam hal memecahkan masalah
2.      Perbedaan cara berfikir antara anak satu dengan yang lain sering kali dapat dilihat dari cara mereka  menyusun kerangka berfikir yang saling berbeda.
3.      Masing – masing cara berfikir akan membentuk satu kesatuan yang terstruktur.
4.      Tiap – tiap urutan dari tahap kognitif pada dasarnya merupakan suatu integrasi hirearkis dari apa yang dialami sebelumnya.
Seperti dikemukakan sebalumnya piaget mencoba mengkaji tingkahlaku anak melalui aktifitas bermainnya, karena Ia ingin menguji bagaimana anak –anak dapat berfikir secara sepontan, dan bagaimana anak –anak menyesuaikan konsepnya terhadap berbagai tata aturan.
Dari hasil penelitiannya piaget mengetahui anak – anak yang lebih muda usianya cenderung menilai suatu tindakan berdasarkan konsekuensi dan akibat materialnya.
Kesimpulan mendasar dari hasil pengamatan piaget adalah bahwa dapat diambil terdapat pola –pola yang konsisten pada prilaku anak yang bergerak pada satu tahap ketahap berikutnya

B. Teori perkembangan moral Kohlberg
            Dalam upaya mengembangkan aspek afeksi siswa melalui pembelajaran murray dalam sebuah overviewnya mengemukakan bahwa menurut Kohlberg pendekatan yang baik yang harus dilakukan untuk memahami prilaku moral yang harus didasari pemahaman tentang tahap –tahap perkembangan moral. Tujuan pendidikan moral adalah untuk mendorong individu – individu guna mencapai tahapan – tahapan perkembangan moral selanjutnya. Dalam keadaan itu pendidikan moral harus memperhatikan kepribadian secara menyeluruh, khususnya berkaitan dengan interaksi kita dengan oranglain, prilaku atau etika kita. (manan, 1995 :8).
            Searah dengan piaget, Kohlberg bahwa para remaja menerapkan struktur kognitif moral mereka pada dilema moral. Dengan demikian menemukan bahwa : 1) penelitian dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional, 2) terdapat sejumlah tahap pertimbangan moral yang sesuai dengan piaget, 3) penelitian yang membenarkan piaget bahwa sekitar usia 16 tahun, pada masa remaja merupakan tahap tertinggi dalam proses tercapainya pertimbangan moral.

Pre-Conventional Level   
Pada level ini anak- anak memberikan respon terhadap aturan –aturan kebiasaan, baik dan buruk, benar atau salah, tetapi interprepretasi ini mereka terjemahkan menurut taraf pemikiran mereka sendiri atau konsekuensi kesenangan dan ketidak senangan mereka terhadap tindakan tertentu (hukuman, reword, ganjaran kebaikan) atau dalam batas kekuasaan fisik dari orang –orang yang menetapkan aturan atau label tersebut.

Tahap 1: The Punishment and Obedience orientation (orientasi pada hukuman dan 
kepatuhan)
            Pada tahap ini biasanya prilaku baik yang muncul pada anak –anak bukan tumbuh sebagai suatu kesadaran akan kebaikan tersebut, akan tetapi hal itu muncul karena konsekuensi tertentu bilaman mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu tindakan tersebut
            Tahap 2: The Instrumental Relativist Orientation
            Pada tahap ini pandangan terhadap perbuatan yang benar adalah perbuatan yang secara instrumental memuaskan kebutuhan dirinya dan kadang –kadang kebutuhan orang lain.

Conventional Level
            Pada level ini telah tumbuh kesadaran dan penghargaan terhadap individu lain, keluarga, kelompok atau Negara dan hal – hal tersebut dianggap memiliki nilai bagi dirinya. Tahap ini lebih memberikan penekanan kepada usaha aktif untuk mengidentifikasikan diri dengan pribadi –pribadi atau kelompok lain yang ada disekitarnya.
            Tahap 3: The Interpersonal Concordance of “Good Boy – Nice Girl” Orientation
(orientasi anak manis).
            Pada tahap ini prilaku yang baik diartikan sebagai prilaku yang menyenangkan atau yang dapat membantu orang lain dan disetujui oleh mereka.
Tahap 4: The low and Order Orientation (orientasi pada perintah dan hukum)
Pada tahap ini tindakan seseorang lebih banyak berorientasi pada otoritas, aturan –aturan yang pasti dan pemeliharaan tata aturan sosial.

Past-Conventional, Autonomus, or Principled Level
            Pada level ini sudah ada usaha kongkrit dalam diri seseorang untuk menentukan nilai – nilai atau prinsip – prinsip moral yang dianggap memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengkaitkannya dengan otoritas kelompok atau pribadi –pribadi yang mendukung prinsip – prinsip tersebut, sekaligus terlepas dari identifikasi seseorang terhadap kelompok.
            Tahap 5: The Social contract Legalistic Orientation (orientasi kontrak sosial legalistik)
            Dalam tahap ini perbuatan yang benar didefinisikan sebagai kebenaran individual secara umum dalam ukuran – ukuran yang standar yang telah diuji secara kritis dan disepakati oleh seluruh masyarakat.
            Tahap 6: The Universal Ethical Principle Orientation
            Pada tahap ini, apa yang secara moral dipandang benar harus dibatasi oleh hukum – hukum  atau aturan – aturan sosial, akan tetapi lebih dibatasi oleh kata hati dan kesadaran menurut prinsip – prinsip etik.
            Teori yang dikemukakan oleh Kohlberg tidak terlepas dari kritik. Yang paling banyak mendapatkan sorotan adalah pandangannya yang memberikan tempat istimewa terhadap keadilan, sebagai tingkatan tertinggi atau tahap tertinggi dari konsep perkembangannya.berdasarkan kritikan – kritikan yang muncul akhirnya mendorong Kohlberg untuk merevisi konsep tahap –tahapnya (dari tahap keenam kelima), dan sekaligus meninjau kembali kecenderungan untuk menempatkan keadilan sebagai prinsip tertinggi.

C.Pandangan Psikologi Sosial Etik H.Erikson         
          Sepintas dapat dikemukakan bahwa Erik H.Erikson adalah salah satu dari kelompok Neo-Ferdian,dimana mereka yang bertitik tolak dari kerangka pemikiran psikoanalisa Freud.
Mengenai tahap – tahap perkembangan psikososial ini Erikson mengemukakan adanya delapan thap perkembangan, yaitu:

1.      Trust vs Mistrust
Tahapan pertama ini berkaitan dengan persoalan apa yang patut dipercaya (Trust) dan apa yang tidak dapat dipercaya (Mistrust).
Seorang bayi akan dapat mengerti dunia sekitarnya melalui perasaannya, dan akan dapat mersakan makanannya melalui lidahnya. Trust dalam hubungan ini diartikan sebagai suatu kesesuaian antara kebutuhan – kebutuhan bayi dengan sekitarnya.
Berkaitan dengan mistrust, Erikson tidak melihat bahwa setiap tahap merupakan kunci untuk menguasai secara penuh kualitas sosial pada tahap berikutnya. Erikson membatasi Mistrust sebagai kesiapan terhadap kemungkinan bahaya, ancaman, atas suatu antisipasi terhadap keadaan yang tidak menyenangkan.
Dari apa yang di kemukakan di atas nampak bahwa  Erikson lebih cendering mengembangkan suatu orientasi terhadap sifat dasar manusia.

2.        Aountonomy vs doubt
Menurut Erikson tiap –tiap tahap dalam perkembangan seseorang distrukturkan melalui cara –cara yang sama.
Dalam tahap kedua ini Erikson mengidealisasikan tumbuhnya sifat –sifat positif (auntonomi) dan sifat – sitaf negative (doubt) secara bersama –sama. Dalam hubungan ini Erikson melihat bahwa pertumbuhan Auntonomi pada dasarnya memerlukan pengembangan rasa kepercayaan diri. Kendati demikian satu hal yang patut untuk deperhatikan bahwa auntonomi yang berlebihan dapat membahayakan.

3.        Initiative vs guilt
Dalam pandangan Erikson konflik yang paling menonjol ditahap ketiga ini adalah perkembangan suatu initiative terhadap satu sasaran atau tujuan, dan kemungkinan tumbuhnya guilt dalam upayanya untuk mencapai sasaran atau tujuan yang lain.
4.      Industry vs Inferiority
Tahap keempat adalah tahap dimana anak –anak mulai mampu menggunakan cara berfikir deduktif, disamping tumbuhnya kemauan untuk mau belajar mematuhi aturan – aturan.  
        Tahap industry vs inferiority ini meliputi dua kutub ekstrim,yaitu sense of industry dan sense of inferiority.

5.Identity vs role confusion
      Erikson memperluas konsep yang dikemukakan oleh Freud dimana proses identitas diri akan tumbuh dalam diri anak pada saat mereka sudah memasuki tahap phallic(sekitar usia 4-6 tahun)dimana pada saat itu anak-anak akan memperoleh kepuasan atau kekuasaan dengan jalan mengimijinasikan hubungan yang erat antara dirinya dengan orang tua atau orang lain yang mempunyai kelamin sejenis.

6.Intimacy vs Isolation
     Menurut Ericson konflik yang paling menonjol di tahap enam adalah intimacy di satu pihak dan isolation di pihak lain.Dalam periode ini tali persahabatan mulai dikembangkan dengan kuat, bahkan pengikatan hubungan dalam tali perkawinan mulai memperoleh tempat.

7.Generativity vs. self –absorption
  Setelah memasuki hubungan perkawinan,kemudian membangun rumah tangga maka akan mengalami konflik masalah partumbuhan  dan kemandengan.

8.Integrity vs. despair
Dimensi psikososial yang mencerminkan tercapainya kematangan konflik antara integrity dengan despair .Ketidakmampuan menguasai salah satu konflik tersebut di atas, sudah cukup untuk mengakibatkan kegagalan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi seseorang

D.Memadukan Pandangan Kohlberg,Piaget,dan Ericson
   Teori Jean Piaget mengatakan bahwa semua anak akan berkembang melalui urutan-urutan yang sama tanpa harus bergantung pada tingkat pengalaman,kondisi keluarga bahkan kebudayan cenderung merupakan kesimpulan yang kurang proposional.Sedangkan Erik H. Erikson yang melihat bahwa perkembangan tiap-tiap tahap harus didukung oleh pranata-pranata budaya yang kuat,utamanya oleh orang tua dan berikutnya oleh berbagai unsur kemasyarakatan.Menurut Kolhberg perkembangan moral anak lebih didominasi oleh perhatianya  pada factor-faktor di dalam individu sendiri dan kurang melihat pentingnya faktro-faktor lingkungan dan sosial ,serta sama sekali meniadakan factor-faktor positif bawaanyang ada pada anak.
     Teori perkembangan dan pertimbangan moral menurut piaget,kolhberg,maupun piaget dapat dijadikan sebagai pengetahuan dalam membuka pemahaman awal terhadap perkembangan moral.Walaupun terdapa perbedaan pandangan dan kekurangan dari masing-masing teori tersebut. 

 E.Implementasi Keterpaduan dalam Pembelajaran
Beberapa teori atau pandangan yang dikemukakan sebelumnya memberikan inspirasi tentang perkembangan dan eksisitensi siswa,pemilihan bahan pembelajaran dan strategi pembelajaran dalam mewujudkan pembelajaran yang optimal.Pemahaman peserta didik merupakan factor yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.Dalam upaya – upaya pengembangan peserta didik agar mampu mngeaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya merupakan tanggung jawab seluruh guru.Untuk terwujudnya iklim dan proses pembelajaran yang kondusif perlu didukung oleh berbagai factor,baik berkenana dengan kemampuan guru,misalnya di dalam memilih bahan ajar,sarana dan fasilitas pendukung serta yang tidak kalah pentingnya kesiapan dan motivasi siswa dalam hal belajar untuk mencapai hasi belajar yang optimal.

SIMPULAN
Proses pembelajaran yang berdaya dan berhasil merupakan kegiatan yang bukan berdiri dengan sendirinya, melainkan terkait dengan beberapa factor.Seperti factor guru adalah sumber utama dalam hal proses belajar di dalam kelas.Guru harus bisa memahami peserta didik dalam berbagai dimensinya.Dalam keadaan ini guru harus bisa memahami keunikan-keunikan peserta didik agar dapat mendorong terjadinya perkembangan secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA

                                      Sukmadinata, Nana Syaodih, 2004, Landasan Psikologi : Proses Pendidikan, Bandung : Pt. Remaja Rosdakarya
                   Suyono and Hariyanto, 2011, Belajar dan Pembelajaran, Teori dan Konsep Dasar, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Aunurrahman, 2012, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta,CV